Warga Hongkong Memilih Tinggal Di MC DONALD Dari Pada Rumah Tak Layak Huni

Warga Hongkong Memilih Tinggal Di MC DONALD Dari Pada Rumah Tak Layak Huni

indoliputan6.net Sebagian besar gerai restoran McDonald Hongkong memang buka selama 24 jam. Tak sedikit orang menghabiskan malam di tempat itu. Untuk sekadar menghilangkan rasa lapar, atau untuk menumpang fasilitas internet gratis. Semua fasilitas yang disediakan restoran cepat saji ini membuat banyak orang yang berdatangan, bukan lagi sekadar untuk makan tapi untuk bermalam. Kebiasaan ini terjadi di Hong Kong.

Orang-orang yang senang bermalam di restoran McDonald, di Hong Kong, dikenal dengan istilah “McRefugees” atau “McSleepers”. Tunawisma atau orang-orang yang kesepian di Hong Kong ini sepertinya bertambah jumlahnya pada tingkat yang mengkhawatirkan. Hong Kong terkenal dengan mahalnya harga pasaran perumahan. Padahal perumahan yang tersedia pun tidak layak huni.

Cara Daftar Menjadi Member Judi Online SenangDomino
Cara Daftar Menjadi Member Judi Online SenangDomino

 

Jadi tidak mengherankan jika beberapa orang lebih suka menghabiskan malam di restoran McDonald 24 jam. Pada tahun 2015, diperkirakan sekitar 256 pengungsi yang sering menginap di McDonald Hong Kong. Tetapi data yang dirilis awal tahun ini menunjukkan bahwa jumlah mereka telah meningkat sebesar 50 persen dalam tiga tahun terakhir dan diperkirakan akan terus tumbuh.

Hongkong

Menurut sebuah penelitian oleh Perwakilan Daerah Kamar Dagang Internasional, sebagian besar pengungsi itu memiliki apartemen kecil di Hong Kong. Tetapi karena kondisinya lebih buruk dari apa yang ditawarkan McDonald’s tak heran mereka lebih memilih tidur di derertan kursi restoran cepat saji itu.

Mayoritas dari mereka yang diwawancarai dalam penelitian ini juga mengklaim, mereka bahkan memiliki pekerjaan tetap. Tetapi penghasilannya masih belum cukup jika harus mencari bangunan baru. Tapi sepertinya, bukan kemiskinan yang menjadi satu-satunya penyebab tingginya angka pengungsi di McDonald Hongkong.

Beberapa orang mengatakan lebih suka tidur di sana, karena mereka kesepian atau melarikan diri dari keluarga.

“Saya dulu sering tidur di rumah, tetapi karena saya bisa tidur di sini, itu lebih dari cukup. Bengan orang-orang muda bermain-main di sini dan bertemu dengan orang lain yang senasib dengan saya,” kata Bibi berusia 62 tahun kepada South China Morning Post.

indoliputan6
indoliputan6

Pendapat itu juga didukung oleh seorang profesor bidang pekerjaan sosial, Wong Hung di Universitas Tiongkok. Ia mengklaim bahwa nukan harga perumahanlah yang mendorong mereka tinggal di sana, melainkan rasa kesepian. Sejauh ini, pihak berwenang masih mengabaikan keberadaan pengungsi di restoran itu. Namun, beberapa LSM mendesak pemerintah membuat semacam perumahan yang lebih terjangkau

Dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, Hong Kong sebenarnya masih memiliki sumber keuangan untuk mengatasi masalah ini. Agar tidak mengganggu banyak orang.

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *