http://indoliputan6.net

Tukang parkir yang membangun rumah spesial anak yang terserang HIV/AIDS

Tukang parkir yang membangun rumah spesial anak yang terserang HIV/AIDS
Tukang parkir yang membangun rumah spesial anak yang terserang HIV/AIDS

indoliputan6 – Beberapa anak Tukang parkir terlihat asik bermain ayunan di muka rumah spesial buat anak-anak yang terserang HIV/AIDS yang terdapat di Solo, Jawa Tengah. Terkadang terdengar nada tangisan serta selang beberapa saat nada tawa.

Rumah spesial ini terdapat jauh dari permukiman masyarakat serta anak-anak yang ditampung datang dari beberapa daerah di Indonesia.

Mereka diberikan di Rumah Berkunjung Lentera sebab beberapa fakta termasuk juga keluarga yang tidak kembali dapat menjaga mereka, atau bahkan juga tidak diterima.

Koordinator rumah spesial ini, Puger Mulyono, mengatakan anak-anak ini ditelantarkan pihak keluarga sebab stigma berkaitan HIV/AIDS yang masih tetap tinggi di penduduk.

“Orangtua anak-anak yang terinfeksi HIV/AIDS kan telah wafat semua hingga mereka itu yatim piatu. Sebab tahu anaknya terinfeksi HIV/AIDS hingga keluarganya menampik serta tidak mengaku hingga mereka itu terlanta,” kata Puger pada wartawan di Solo Fajar Sodiq yang memberikan laporan untuk BBC News Indonesia.

Puger menjelaskan dia pertama-tama mengasuh anak dengan HIV/AIDS (ADHA) pada 2012 waktu lihat ada anak yang ditelantarkan di satu rumah sakit di Solo.

“Terdapatnya informasi anak dengan HIV/AIDS terlantar itu, kami akan memutuskan untuk merawatnya. Sebab anak telah dipulangkan oleh rumah sakit ke keluarganya di Mojosongo, kami juga menjumpai kakek serta neneknya. Nyatanya mereka tidak mengaku bila itu cucunya atau menjadi anggota keluarganya. Pada akhirnya, mereka membolehkan kami untuk menjaga anak itu,” katanya.

Anak ini dengan bergantian dia asuh bersama dengan rekan dari yayasan lainnya sebelum pada akhirnya mereka akan memutuskan untuk bikin rumah spesial untuk menjaga serta mengasuh anak yang terserang HIV/AIDS serta ditelantarkan keluarganya.

“Dari kamar kos selalu kami mencari kontrakan… uang untuk mengontrak itu hasil penjualan motor punya Pak Yunus Prasetyo (rekanan aktivis penamping anak dengan HIV/AIDS).”

“Di dalam rumah kontrakan itu selalu makin bertambah anak-anak dengan HIV/AIDS yang diititipkan, selalu ada anak terinfeksi HIV/AIDS yang diantar neneknya diantar kesini. Selalu dari Boyolali ada tiga anak di rujuk kesini,” narasi Puger yang keseharian kerja menjadi tukang parkir untuk memberikan nafkah keluarganya.

Tidak hanya jadi tukang parkir, sekarang ini Puger seringkali diundang dalam acara tersangkut perawatan anak dengan HIV.

Tidak diterima disana sini

Puger menjelaskan masyarakat di seputar menampik kehadiran rumah spesial itu sesudah tahu anak-anak yang tinggal disana terserang HIV/AIDS.

“Saat kontrak saat dua tahun tuntas pada 2015 lantas, kami ingin perpanjang kontrak tapi masyarakat menolaknya hingga kami mesti mencari rumah kontrakan baru,” tuturnya.

Waktu geser ke tempat baru bahkan juga ada masyarakat yang lakukan demonstrasi, imbuhnya kembali, meskipun tempat yang mereka menempati ialah rumah keluarga Puger sendiri.

Penolakan ini berulang-kali dia alami sampai ada seseorang ustad yang membantunya melawan masyarakat yang menampik.

“Sesudah tidak diterima di sana-sini, pada akhirnya ada ustaz Mudzakir yang mengontrakkan rumah… Walau ada penolakan dari masyarakat tetapi ustaz Mudzakir pasang tubuh untuk menghadap masyarakat yang menampik,” ceritanya.

Sekarang ini, rumah spesial yang mereka menempati untuk mengasuh serta menjaga anak adalah sisi pertolongan dari pemerintah kota dan dinas sosial ditempat dan pihak swasta untuk pembangunan tempat tinggalnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *