Penangkapan 3 Masyarakat yang Didakwa Hina Eks Raja Malaysia Tuai Masukan

Penangkapan 3 Masyarakat yang Didakwa Hina Eks Raja Malaysia Tuai Masukan

Penangkapan 3 Masyarakat yang Didakwa Hina Eks Raja Malaysia Tuai Masukan
Penangkapan 3 Masyarakat yang Didakwa Hina Eks Raja Malaysia Tuai Masukan

 

Penangkapan tiga orang yang didakwa mengejek bekas Raja Malaysia atau Yang di-Pertuan Agong Sultan Muhammad V memetik kritikan. Beberapa aktivis mengkritik pemerintah Malaysia yang masih tetap memakai Undang-undang (UU) Antipenghasutan yang dimaksud berbentuk menindas.

Tiga orang yang terdiri atas dua pria serta satu wanita diamankan kepolisian Malaysia atas dakwaan memposting pengakuan bernada mengejek turun takhtanya Sultan Muhammad V. Pengakuan bernada mengejek itu dikatakan lewat Facebook serta Twitter.

Ketiganya yang diidentifikasi bernama Eric Liew Chee Ling (46), Azham Akhtar Abdullah (27) serta Nur Alia Astaman (26) itu diamankan pada Selasa (8/1) kemarin. Ditekankan Kepala Kepolisian Malaysia, Inspektur Jenderal Polisi Mohamad Fuzi Harun, jika ketiganya diselidiki atas pendapat melanggar masalah 4 ayat 1 UU Antipenghasutan Malaysia yang laku semenjak tahun 1948. Bila dikatakan bersalah, ke-3 orang itu dapat terancam hukuman maximum tiga tahun penjara.

Direktur Eksekutif grup HAM Lawyers for Liberty, Latheefa Koya, berterus-terang mengkritik penangkapan itu.

“Polisi semestinya tidak tunduk pada keadaan di dalam dorongan beberapa orang supaya otoritas lakukan tindakan,” ucap Latheefa.

Dalam pengakuannya, Latheefa menggerakkan dikerjakannya reformasi hukum di Malaysia. Ditambahkan Latheefa jika UU Antipenghasutan adalah ‘legislasi yang menindas’. Diakuinya kaget waktu tahu pemerintah baru Malaysia masih tetap memakainya.

Didapati jika pemerintahan baru Malaysia yang di pimpin Perdana Menteri (PM) Mahathir Mohamad bersumpah dalam manifesto pemilu tahun kemarin untuk meniadakan undang-undang serta ketentuan hukum yang dipandang represif. Akan tetapi pada praktiknya hal tersebut belum dikerjakan.

PM Mahathir sendiri merekomendasikan supaya otoritas Malaysia tidak terlalu berlebih dalam membidik beberapa orang yang didakwa memposting komentar mengejek di sosial media atau alat yang lain.

“Dengan memperhitungkan kebebasan bicara, bila seorang bicara dengan faktual, Anda tidak dapat mengkriminalisasi orang itu. Bila kita tutup mulut tiap-tiap orang … bahkan juga saat berlangsung satu tindak kejahatan, maka ada ketidakadilan di negara ini,” tegasnya.

Didapati jika pada Minggu (6/1) lantas, Sultan Muhammad V yang disebut Sultan Kelantan menginformasikan pengunduran diri dari jabatan Yang di-Pertuan Agong sesudah dua tahun bertakhta. Ia naik takhta pada Desember 2016. Turun takhtanya seseorang Raja Malaysia ini jadi peristiwa pertama dalam riwayat Malaysia, semenjak negara itu merdeka dari Inggris tahun 1957.

Sebelum turun takhta, kepemimpinan Sultan Muhammad V diwarnai kegelisahan sesudah laporan alat di akhir November 2018 menyebutkan ia menikah dengan seseorang bekas Ratu Kecantikan asal Rusia bernama Osana Voevodina. Pernikahan diselenggarakan dengan elegan di Moskow. Pihak Kerajaan Malaysia ataupun pemerintahan Malaysia tidak memberi komentar laporan itu. Fakta Sultan Muhammad V mengundurkan diri pun tidak diterangkan oleh Kerajaan Malaysia.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *