Andi Arief Tantang Jokowi Beri Mata ke Novel Hanura Singgung Kasus Century

Andi Arief Tantang Jokowi Beri Mata ke Novel Hanura Singgung Kasus Century

Andi Arief Tantang Jokowi Beri Mata ke Novel Hanura Singgung Kasus Century
Andi Arief Tantang Jokowi Beri Mata ke Novel Hanura Singgung Kasus Century

Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief melawan Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberi satu matanya untuk penyidik KPK, Novel Baswedan, yang terserang teror penyiraman air keras. Partai Hanura menyentuh skandal Bank Century yang disangka menyertakan Ketua Umum PD, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) waktu menjabat menjadi presiden periode 2004-2009.

“Sebab Andi Arief meminta Jokowi memberi matanya pada Novel Baswedan, jadi bisa jadi rakyat Indonesia minta semua harta SBY diambil alih untuk ganti kerugian negara karena Century Gate,” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah.

Rintangan Andi ke Jokowi sebab ia terasa Jokowi tutup mata atas masalah penyiraman air keras pada Novel Baswedan. Menurut Andi, masalah Novel gampang untuk dituntaskan.

Inas juga mengakui bingung dengan pengakuan Andi itu. Karena, menurutnya, presiden tidak dapat mengintervensi hukum. Pengungkapan masalah teror pada Novel seutuhnya jadi tanggung jawab polisi.

“Andi Arief meskipun sempat jadi staf spesial SBY tetapi belum pernah diajari oleh bosnya jika pekerjaan presiden bukan ngurusin ataupun mengintervensi langsung masalah kriminil seperti masalah Novel Baswedan, sebab menurut undang-undang, itu pekerjaan kepolisian. Jadi bukan kerjaan Jokowi untuk menyelesaikan masalah Novel Baswedan,” jelas Inas.

Tidak hanya menyentuh masalah Century yang disangka menyertakan SBY, Inas ikut mengungkit masalah penculikan aktivitis 1998 yang disebut-disebut dikerjakan atas perintah calon presiden Prabowo Subianto. Inas menyangka Arief memang menyengaja melemparkan rumor Novel Baswedan supaya publik kembali mengingat momen penculikan itu.

Karena, menurutnya, Andi masih tetap jengkel dengan Prabowo. Perihal ini berkaitan dengan arti ‘jenderal kardus’ yang sempat dilemparkan Andi untuk Prabowo sebab masalah calon wakil presiden.

“Bermakna Andi Arief menyengaja memperingatkan kembali pada penduduk mengenai pendapat penculikan serta pembunuhan yang oleh beberapa aktivis 98 disangka dikerjakan oleh Prabowo Subianto. Perihal ini menunjukkan jika Andi Arief sebetulnya masih tetap jengkel sama Prabowo hingga ia sempat menjuluki Prabowo menjadi jenderal kardus,” katanya.

Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto awal mulanya ikut sudah menyikapi pengakuan Andi Arief. Arief mengatakan aplikasi hukum mesti sesuai dengan ketetapan, tidak dapat dikerjakan asal-asalan. Ia menyatakan, Polri juga sampai sekarang ini masih tetap kerja untuk membuka masalah Novel.

Cepat lambannya pengungkapan masalah, lanjut Arief, begitu bergantung pada modus operandi, kecukupan alat bukti, tanda bukti, panduan di TKP serta saksi-saksi yang memastikan tingkat kesusahan pengungkapan. Arief memberikan buat siapapun yang mempunyai info terkait dengan momen penyerangan Novel Baswedan, jadi penyidik akan terbuka untuk terima info itu.

“Dalam peristiwa penyerangan yang ‘hit & run’ memang mempunyai tingkat kesusahan sendiri. Sampai sekarang ini penyidik masih kerja untuk menghimpun bukti serta info. Pengungkapan masalah ini jadi tanggung jawab penyidik sebagai penegak hukum yang memang ditugaskan oleh negara dalam ranah penegakan hukum,” tutur Arief.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *